Kamis, 06 Desember 2012

Kuda di kaki bukit Kayuputih


Banyak hal yang belum kita ketahui tentang kelebihan suatu desa. Seperti halnya dengan Desa Kayuputih Melaka.  Desa ini bisa dikatakan desa yang kecil dan untuk mencarinya harus menempuh jarak 14 km dari kota Singaraja. Namun jarak belasan kilo tersebut tidak akan membuat kita kecewa atau merasa percuma mengunjunginnya. Sebab desa Kayuputih Melaka yang bisa dikatakan terletak di kaki bukit ini memiliki hewan kekar yang diminati oleh wisatawan asing dan memang jarang ditemukan di desa lainnya. Hewan ini adalah KUDA.
Salah seorang pemuda yang bernama Gede Adi Kusuma Wardana yang akrab dipanggi Dedi memelihara kuda selama 10 tahun. Ia merawat kuda ini seperti merawat dirinya sendiri dengan memberikan hak yang istimewa. Ia menyediakan rumah dan halaman untuk melatih kuda-kudanya dan dibangun tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu ketiga kuda yang ia rawat sekarang mempunyai nama yaitu “Marcus, Putra dan Pento”. Ketiga kuda ini tumbuh kekar dan jinak. Ajaibnya ia bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris. “Jika kita memintanya untuk diam, kuda tersebut akan diam jika kita meminta dengan menggunakan bahasa inggris, jika tidak ketiga kuda ini akan tetap melakukan apa yang mereka lakukan dan tidak memerdulikan suara-suara disekitarnya” kata ibunda Dedi.
 Seiring berjalannya waktu, ketika desa Kayuputih dipadati oleh pengunjung wisatawan asing. Marcus, Putra dan Pento mempunyai kegiatan baru, yaitu mengantarkan pengunjung melihat keindahan pegunungan di desa Kayputih dan tentunya ditemani oleh Dedi atau adik-adiknya.  Informasi adanya ketiga kuda ini didapatkan di media cetak seperti brosur dan media elektronik seperti internet.
Hasil publikasinya ditanggapi antusias. Pada bulan Juli dan Agustus 2012, pengunjung sangat ramai. Marcus, Putra dan Pento sangat kelelahan karena harus mengantar wisatawan menjelajahi desa kayuputih atau ke tempat-tempat lain yang ingin mereka kunjungi. Bisa ditarik kesimpulan bahwa pengunjung terbanyak tahun ini adalah 7 orang dan paling sedikit 4 orang. Karena Dedi hanya memelihara 3 ekor kuda, maka wisatawan yang ingin menaikinya harus bergantian. Alhasil pendapatannya lumayan banyak. Dedi memberikan harga untuk setiap pengunjung. Untuk orang asing, satu orang dapat menunggangi kuda selama 2 jam dengan biaya Rp. 500.000, satu jam 200.000, 30 menit Rp.150.000, dan 75 menit Rp. 300.000. Tidak menutup kemungkinan orang lokal tidak dapat menungganginya, dan pastinya tarif harganya lebih murah. Untuk orang lokal dikenakan biaya setengah dari harga untuk pengunjung asing. Namun sayangnya keadaan Marco, Putra dan Pento sekarang tidak memungkinkan untuk ditunggangi, maka untuk sementara aktifitas ketiga kuda ini diberhentikan selama beberapa bulan. Namun, bulan januari Marco, Putra dan Pento siap mengantar wisatawan yang ingin menaiki punggung kekarnya.

1 komentar:

  1. Terimak kasih. Ada banyak tempat wisata menarik di Buleleng ternyata ya. Apa pengunjung terbanyaknya 7 orang tahun ini? Semoga bisa mencobanya suatu hari.

    BalasHapus