Banyak hal
yang belum kita ketahui tentang kelebihan suatu desa. Seperti halnya dengan
Desa Kayuputih Melaka. Desa ini bisa
dikatakan desa yang kecil dan untuk mencarinya harus menempuh jarak 14 km dari
kota Singaraja. Namun jarak belasan kilo tersebut tidak akan membuat kita
kecewa atau merasa percuma mengunjunginnya. Sebab desa Kayuputih Melaka yang
bisa dikatakan terletak di kaki bukit ini memiliki hewan kekar yang diminati
oleh wisatawan asing dan memang jarang ditemukan di desa lainnya. Hewan ini
adalah KUDA.
Salah seorang
pemuda yang bernama Gede Adi Kusuma Wardana yang akrab dipanggi Dedi memelihara
kuda selama 10 tahun. Ia merawat kuda ini seperti merawat dirinya sendiri dengan
memberikan hak yang istimewa. Ia menyediakan rumah dan halaman untuk melatih
kuda-kudanya dan dibangun tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu ketiga
kuda yang ia rawat sekarang mempunyai nama yaitu “Marcus, Putra dan Pento”. Ketiga
kuda ini tumbuh kekar dan jinak. Ajaibnya ia bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris. “Jika kita memintanya
untuk diam, kuda tersebut akan diam jika kita meminta dengan menggunakan bahasa
inggris, jika tidak ketiga kuda ini akan tetap melakukan apa yang mereka lakukan
dan tidak memerdulikan suara-suara disekitarnya” kata ibunda Dedi.
Seiring berjalannya waktu, ketika desa
Kayuputih dipadati oleh pengunjung wisatawan asing. Marcus, Putra dan Pento mempunyai
kegiatan baru, yaitu mengantarkan pengunjung melihat keindahan pegunungan di
desa Kayputih dan tentunya ditemani oleh Dedi atau adik-adiknya. Informasi adanya ketiga kuda ini didapatkan di
media cetak seperti brosur dan media elektronik seperti internet.
Hasil publikasinya
ditanggapi antusias. Pada bulan Juli dan Agustus 2012, pengunjung sangat ramai.
Marcus, Putra dan Pento sangat kelelahan karena harus mengantar wisatawan
menjelajahi desa kayuputih atau ke tempat-tempat lain yang ingin mereka
kunjungi. Bisa ditarik kesimpulan bahwa pengunjung terbanyak tahun ini adalah 7 orang dan paling sedikit 4 orang. Karena Dedi hanya memelihara
3 ekor kuda, maka wisatawan yang ingin menaikinya harus bergantian. Alhasil
pendapatannya lumayan banyak. Dedi memberikan harga untuk setiap pengunjung. Untuk
orang asing, satu orang dapat menunggangi kuda selama 2 jam dengan biaya Rp. 500.000,
satu jam 200.000, 30 menit Rp.150.000, dan 75 menit Rp. 300.000. Tidak menutup
kemungkinan orang lokal tidak dapat menungganginya, dan pastinya tarif harganya
lebih murah. Untuk orang lokal dikenakan biaya setengah dari harga untuk
pengunjung asing. Namun sayangnya keadaan Marco, Putra dan Pento sekarang tidak
memungkinkan untuk ditunggangi, maka untuk sementara aktifitas ketiga kuda ini
diberhentikan selama beberapa bulan. Namun, bulan januari Marco, Putra dan
Pento siap mengantar wisatawan yang ingin menaiki punggung kekarnya.


Terimak kasih. Ada banyak tempat wisata menarik di Buleleng ternyata ya. Apa pengunjung terbanyaknya 7 orang tahun ini? Semoga bisa mencobanya suatu hari.
BalasHapus