Tau mobil-mobilan?
PS? Game online atau boneka berbie? Adik-adik pasti banyak yang mengenal mainan
itu. Tapi apakah kalian masih sering memainkan permainan pasar-pasaran?
Pasar-pasaran adalah jenis permainan tradisional. Cara memainkannya juga sangat
mudah. Adik-adik hanya butuh beberapa teman saja untuk memainkannya. Pada permainan
itu adik-adik harus membentuk kelompok. Satu kelompok sebagai penjual dan satu
kelompok sebagai pembeli. Alat-alat yang digunakan juga gampang dicari.
Barang-barang yang akan dijual bias menggunakan tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar
adik-adik, dan uang bisa memakai daun bunga kembang kertas. Misalnya, adik-adik ingin menjual gado-gado.
Ketupat bisa diganti dengan pelepah pisang yang dipotong kecil-kecil, bumbu
memakai tumbukan bata merah yang dicampur air dan sayurnya bisa memakai jenis
dedaunan yang kecil-kecil. Bagi pembeli membayar menggunakan daun bunga sebagai
uangnya. Jadi, kenapa adik-adik tidak mencoba permainan ini lagi?. Ayo
budayakan permainan tradisional ini, tapi jangan lupa buang sampah pada
tempatnya ya.
Kandil Kemerlap
titik penerangan dalam kehidupan yang membuatnya lebih berwarna
Selasa, 08 Januari 2013
Kualitas film Indonesia
Produksi film di Indonesia
semakin hari kualitasnya semakin merosot. Bagaimana tidak? ada beberapa
film horor identik dengan hantu yang menakutkan, tetapi dikemas dengan vulgar.
Banyak adegan-adegan yang seharusnya disensor, tetapi malah diperlihatkan
secara detail. Hal ini akan merusak moral penotnton, terutama yang masih
dibawah umur . Bayangkan saja jika anak-anak yang menontonnya, dan anak tersebut
meniru adegan-adegan itu. Apa itu tidak berdampak negatif?
Putu Yogi Purandara adalah salah satu anak Sekolah Dasar yang masih
berumur 11 tahun. Anak ini sangat menyukai film horor. Setiap waktu ia selalu
menonton salah satu canel yang selalu menayangkan film-film horor. Memang
ketika film itu selesai ditayangkan ia sering ketakutan pada malam harinya dan
memilih tidur bersama ibunya, tetapi rasa takut itu dikalahkan oleh hobinya
menonton film horor. Ketika ditanya film apa saja yang pernah ia tonton, ia
menyebutkan beberapa judul film-film. Dari beberapa judul itu, terdapat dua
perbandingan dari alur ceritanya. Film pertama menayangkan cerita seram, tetapi
terselip adegan vulgar dan film ke dua menayangkan cerita-cerita seram tanpa
adegan-adengan vulgar. Kedua film ini mampu ia jelaskan sampai cerita itu
selesai. Ketika diberikan pilihan antara kedua film tersebut memang ia memilih
film ke dua, menurutnya film ke dua ceritanya lebih seram. Tetapi ketika
ditanya tentang film pertama, ia juga mengatakan kalau film tersebut bagus
apalagi melihat ‘adegan-adegan’ itu.
Memang seharusnya orang tua lebih memerhatikan anak-anaknya dan
melarang menonton adegan yang belum pantas ia tonton. Tetapi bagaimana jika
adegan itu diperlihatkan secara detail pada film yang sangat disukai anak-anak?
Apa anak tersebut akan mengalihkan cenel-nya?
Tidak anak tidak akan melewatkan sesuatu yang ia senangi. Inilah yang menjadi
pertanyaan kita semua, kenapa film-film dipertontonkan untuk umum itu bisa lulus
sensor? Apakah dari pihak penayangan tidak memikirkan hal negatif yang akan
muncul ketika film horor seperti itu ditayangkan dan disaksikan banyak orang? Untuk
itu mulailah dari sekarang untuk sensitif terhadap hal-hal kecil yang bisa berdampak negatif untuk masyarakat.
Online Shop
Kata Online shop mungkin
sudah tidak asing lagi bagi remaja sekarang. Dari sekian banyak remaja baik itu
laki atau perempuan lebih memilih belanja online
daripada ke toko-toko baju. Berangkat dari hobi memilih baju-baju itulah mereka
banyak yang membeli dan berbisnis menjual baju-baju online. Namanya juga online
pasti barang-barang yang dibeli dipesan lewat media elektronik. Customer tinggal memilih, menbayar via
rekening dan barang yang dipesan datang. Praktis kan?
Putu Sri Tony Noperyani (22thn) adalah salah satu mahasiswi
pembisnis online dari Universitas
Pendidikan Ganesha yang tinggal di kota Singaraja, Bali. Ia menjual beraneka
ragam jenis baju khusus perempuan dan beberapa baju couple. Model dan kualitasnya juga tidak kalah bagus dengan
baju-baju di toko. Tony menyukai bisnis online sejak ia gemar membeli dan
mengoleksi baju-baju unik. Ia menjual barang dagangannya lewat facebook dan hape. Dari bisnis yang ditekuninya sejak bulan april 2012 ini, ia
mendapatkan untung dari 1 juta hingga 3
juta rupiah dalam satu bulannya. Waahh... lumayan ya.. Tapi ada sedikit kecewa
dibalik penghasilannya yang gede itu, seperti hilangnya customer saat barang sudah datang, dan barang yang sudah dikirim
tidak dibayar oleh customer-nya. Walaupun
terjadi hal seperti itu, ia tetap merasa senang berbisnis online karna bisa menghasilkan uang sendiri tanpa mengganggu
kuliahnya. Setiap bulan 50 hingga 100 pesanan baju siap ia kemas dan dikirim ke
customer lainnya. Barang-barang yang
ia jual berasal dari Bandung, Jakarta dan Denpasar. Walaupun tempat yang jauh,
jasa layanan pos sangat membantu bisnisnya baik itu dalam menerima barang dari supplier atau mengirim barang ke customer-nya.
Kuliah sambil berbisnis itu sangat menyenangkan. Tidak perlu merasa takut
karena tidak memiliki pelanggan. Kita bisa
mengajak teman-teman untuk membeli dan menjadi downline kita. Dari downline inilah baju-baju yang kita jual bisa
mewabah dan kita sendiri mendapatkan sedikit keuntungan dari penjualannya. Bisnis
online memang bisnis yang memanjakan,
tetapi menguntungkan bagi suplayer dan
reselernya. Mari mulai berbisnis!
tidak hanya baju-baju gaul saja yang bisa kita jual online, tetapi yang berkaitan dengan ibadah seperti kebaya,
kerudung, dan yang lainnya bisa kita jual. Alat-alat kecantikanpun bisa kita
jual online. Dalam berbisnis pengalamanlah
yang kita cari, baik itu senang atau kecewa. Kesenangan kita jadikan motivasi
dan kekecewaan kita jadikan pelajaran untuk lebih berhati-hati mempercayai
orang lain.
Rabu, 19 Desember 2012
Ibu
Matahari
Yahh… aku menyebutmu matahari
Dan..
Aku adalah daun kecil yang tumbuh karnamu
Cahayamu membuatku tumbuh begitu segar
Walaupun terkadang terik
Tapi terkadang memberikan kehangatan
Kaulah matahariku
ibu..
Tak ada kasih sayang yang lebih mulia darimu
Kau mengandungku
Kau tertatih
Sakit,… sakit yang kau rasakan
Ketika aku akan melihat dunia yang fana ini
Tetapi kau tetap tersenyum
Setiap malam aku mengusik tidurmu
Aku Menangis,
Aku selalu ingin kau dekap,
Aku selalu ingin dipangku
Dan..
Malam itu kau memberikan
senyuman
Ibu..
Kini aku berada jauh darimu
Aku merindukan pelukmu
Aku merindukan sosok teduh dan hangat
Hanya itu yang bisa membuatku tenang
Ibu..
Begitu banyak yang kau ajarkan
Hingga aku mengerti arti kehidupan
Semua dari kesabaran dan senyum iklasmu
Tak ada yang menadingimu
Kaulah matahariku
Kaulah senyumku
Aku bahagia melihat senyuman itu
Senyuman matahari
Untuk sepucuk daun muda
Senin, 17 Desember 2012
Keringat seorang Nenek
Tidak ada
yang tidak mungkin. Kesederhanaan selalu memotivasi kita untuk selalu bekerja
keras. Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. Nengah Karti, nama
beliau. Ia lahir di desa Anturan, 1 juli
1946. Kini ia tinggal di wilayah pesisir pantai, desa celuk angung, kalibubuk.
Ia adalah ibu dari tiga orang anak. Anak pertamanya seorang laki-laki bernama
putu suarka. Anak kedua seorang perempuan
bernama Kadek Marini, dan anak ketiga seoarang laki-laki bernama Komang Mara.
Ketika saya
mengunjungi pantai Celuk Agung, saya bertemu dengan nenek Karti sedang
bersantai karena hari itu ia tidak berjualan. Ia tinggal bersama Komang Mara
dan istrinya di salah satu rumah pesisir pantai. Walaupun rumahnya terkesan
sederhana, tetapi tatanannya sangat rapi. Namun, tatanan hidup nenek Karti
tidak serapi tatanan rumahnya. Dimulai dari meninggalnya sosok suami yang
dicintainya, kemudian anak pertamanya. Diusianya yang sudah renta ini ia juga
harus brjualan keliling mendaki pegunungan di desa kayuputih Melaka. Ia
berjualan keliling sejak tahun 1971 hingga sekarang. Keadaanlah yang memaksanya
untuk berjualan menghampiri rumah-rumah warga dengan membawa beberapa bahan masakan
rumah tangga, seperti ikan laut, tahu, tempe. Ia juga menjual nasi kuning dan jajan
bali. Itupun hanya beberapa saja yang ia bawa. Seperti tiga bungkus tahu yang jual seharga
Rp.5.000,-, ikan laut sebanyak Rp. 60.000,- yang dijual Rp. 4.000,- sampai Rp.
5.000,-. Dari sekian bahan masakan yang dijualnya tidak ada satupun yang tersisa.
Walaupun hasil yang didapat hanya Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000, itupun
penghasilan yang sudah dipotong ongkos jalan. Ketika saya bertanya, “mengapa
harus jalan kaki? Apa tidak ada yang mengantar?”. Nenek karti menjawab dengan
santai kalau tidak ada orang yang mengantarnya, setiap hari ia menaiki ojek
atau angkot dari celuk agung hingga desa Batu keben di rumah anak keduanya .
Setelah itu ia berjalan kaki menelusuri jalan aspal yang ada di desa kayuputih.
Tidak ada yang mengantar dan tidak ada yang menjemput. Ia sadar dengan
keseharian anak laki-lakinya yang hanya menghabiskan waktunya untuk mengadu
ayam dan tidak bekerja sama sekali, ia hanya menghandalkan warung kecil yang dikelola oleh istrinya.
Pukul 4 atau
5 pagi nenek Karti berangkat ke pasar membeli barang belanjaan yang akan
dibawanya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya hingga sore bahkan malam
hari. Lelah , memang sangat lelah tetapi itulah yang harus ia lakukan setiap
hari. Namun, akhir-akhir ini nenek Karti berjualan hanya berselang 3 atau 4
hari atau menurut cuaca. Dalam kesehariannya nenek karti tidak mengenal lelah. Tidak
peduli cuaca dingin, panas ataupun kehujanan saat perjalanan. Ia mengaku lebih
senang berjualan keliling dari pada berjualan di pasar. “anggon ape bin
medagang di peken, mekejang sube ade adepe ken anake. (buat apa lagi jualan di
pasar, semua sudah banyak yang dijual oleh pedagang lainnya)” ungkapnya
menggunakan bahasa bali. Mengapa tidak memancing di laut? Ia hanya menjawab
“sing ade ne mancing, yen mancing masi untung-untungan. Kadang maan, kadang
sing. Yen maan paling anggon masak jumah dogen (tidak ada yang memancing, kalau
memancing juga untung-untungan. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau dapat paling
untuk masak di rumah saja)”pungkasnya lagi.
Langganan:
Komentar (Atom)



