Selasa, 08 Januari 2013

Pasar-pasaran


Tau mobil-mobilan? PS? Game online atau boneka berbie? Adik-adik pasti banyak yang mengenal mainan itu. Tapi apakah kalian masih sering memainkan permainan pasar-pasaran? Pasar-pasaran adalah jenis permainan tradisional. Cara memainkannya juga sangat mudah. Adik-adik hanya butuh beberapa teman saja untuk memainkannya. Pada permainan itu adik-adik harus membentuk kelompok. Satu kelompok sebagai penjual dan satu kelompok sebagai pembeli. Alat-alat yang digunakan juga gampang dicari. Barang-barang yang akan dijual bias menggunakan tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar adik-adik, dan uang bisa memakai daun bunga kembang kertas.   Misalnya, adik-adik ingin menjual gado-gado. Ketupat bisa diganti dengan pelepah pisang yang dipotong kecil-kecil, bumbu memakai tumbukan bata merah yang dicampur air dan sayurnya bisa memakai jenis dedaunan yang kecil-kecil. Bagi pembeli membayar menggunakan daun bunga sebagai uangnya. Jadi, kenapa adik-adik tidak mencoba permainan ini lagi?. Ayo budayakan permainan tradisional ini, tapi jangan lupa buang sampah pada tempatnya ya.

Kualitas film Indonesia


Produksi film di Indonesia  semakin hari kualitasnya semakin merosot. Bagaimana tidak? ada beberapa film horor identik dengan hantu yang menakutkan, tetapi dikemas dengan vulgar. Banyak adegan-adegan yang seharusnya disensor, tetapi malah diperlihatkan secara detail. Hal ini akan merusak moral penotnton, terutama yang masih dibawah umur . Bayangkan saja jika anak-anak yang menontonnya, dan anak tersebut meniru adegan-adegan itu. Apa itu tidak berdampak negatif?
Putu Yogi Purandara adalah salah satu anak Sekolah Dasar yang masih berumur 11 tahun. Anak ini sangat menyukai film horor. Setiap waktu ia selalu menonton salah satu canel yang selalu menayangkan film-film horor. Memang ketika film itu selesai ditayangkan ia sering ketakutan pada malam harinya dan memilih tidur bersama ibunya, tetapi rasa takut itu dikalahkan oleh hobinya menonton film horor. Ketika ditanya film apa saja yang pernah ia tonton, ia menyebutkan beberapa judul film-film. Dari beberapa judul itu, terdapat dua perbandingan dari alur ceritanya. Film pertama menayangkan cerita seram, tetapi terselip adegan vulgar dan film ke dua menayangkan cerita-cerita seram tanpa adegan-adengan vulgar. Kedua film ini mampu ia jelaskan sampai cerita itu selesai. Ketika diberikan pilihan antara kedua film tersebut memang ia memilih film ke dua, menurutnya film ke dua ceritanya lebih seram. Tetapi ketika ditanya tentang film pertama, ia juga mengatakan kalau film tersebut bagus apalagi melihat ‘adegan-adegan’ itu.
Memang seharusnya orang tua lebih memerhatikan anak-anaknya dan melarang menonton adegan yang belum pantas ia tonton. Tetapi bagaimana jika adegan itu diperlihatkan secara detail pada film yang sangat disukai anak-anak? Apa anak tersebut akan mengalihkan cenel-nya? Tidak anak tidak akan melewatkan sesuatu yang ia senangi. Inilah yang menjadi pertanyaan kita semua, kenapa film-film dipertontonkan untuk umum itu bisa lulus sensor? Apakah dari pihak penayangan tidak memikirkan hal negatif yang akan muncul ketika film horor seperti itu ditayangkan dan disaksikan banyak orang? Untuk itu mulailah dari sekarang untuk sensitif terhadap hal-hal kecil yang bisa berdampak negatif untuk masyarakat.

Online Shop




Kata Online shop mungkin sudah tidak asing lagi bagi remaja sekarang. Dari sekian banyak remaja baik itu laki atau perempuan lebih memilih belanja online daripada ke toko-toko baju. Berangkat dari hobi memilih baju-baju itulah mereka banyak yang membeli dan berbisnis menjual baju-baju online. Namanya juga online pasti barang-barang yang dibeli dipesan lewat media elektronik. Customer tinggal memilih, menbayar via rekening dan barang yang dipesan datang. Praktis kan?
Putu Sri Tony Noperyani (22thn) adalah salah satu mahasiswi pembisnis online dari Universitas Pendidikan Ganesha yang tinggal di kota Singaraja, Bali. Ia menjual beraneka ragam jenis baju khusus perempuan dan beberapa baju couple. Model dan kualitasnya juga tidak kalah bagus dengan baju-baju di toko. Tony menyukai bisnis online sejak ia gemar membeli dan mengoleksi baju-baju unik. Ia menjual barang dagangannya lewat facebook dan hape. Dari bisnis yang ditekuninya sejak bulan april 2012 ini, ia mendapatkan untung dari 1 juta  hingga 3 juta rupiah dalam satu bulannya. Waahh... lumayan ya.. Tapi ada sedikit kecewa dibalik penghasilannya yang gede itu,  seperti hilangnya customer saat barang sudah datang, dan barang yang sudah dikirim tidak dibayar oleh customer-nya. Walaupun terjadi hal seperti itu, ia tetap merasa senang berbisnis online  karna  bisa menghasilkan uang sendiri tanpa mengganggu kuliahnya. Setiap bulan 50 hingga 100 pesanan baju siap ia kemas dan dikirim ke customer lainnya. Barang-barang yang ia jual berasal dari Bandung, Jakarta dan Denpasar. Walaupun tempat yang jauh, jasa layanan pos sangat membantu bisnisnya baik itu dalam menerima barang dari supplier atau mengirim barang ke customer-nya.
Kuliah sambil berbisnis itu sangat menyenangkan. Tidak perlu merasa takut karena  tidak memiliki pelanggan. Kita bisa mengajak teman-teman untuk membeli dan menjadi downline kita. Dari downline inilah baju-baju yang kita jual bisa mewabah dan kita sendiri mendapatkan sedikit keuntungan dari penjualannya. Bisnis online memang bisnis yang memanjakan, tetapi menguntungkan bagi suplayer dan reselernya. Mari mulai berbisnis! tidak hanya baju-baju gaul saja yang bisa kita jual online, tetapi yang berkaitan dengan ibadah seperti kebaya, kerudung, dan yang lainnya bisa kita jual. Alat-alat kecantikanpun bisa kita jual online. Dalam berbisnis pengalamanlah yang kita cari, baik itu senang atau kecewa. Kesenangan kita jadikan motivasi dan kekecewaan kita jadikan pelajaran untuk lebih berhati-hati mempercayai orang lain.

Rabu, 19 Desember 2012

Ibu


Matahari
Yahh… aku menyebutmu matahari
Dan..
Aku adalah daun kecil yang tumbuh karnamu
Cahayamu membuatku tumbuh begitu segar
Walaupun terkadang terik
Tapi terkadang memberikan kehangatan
Kaulah matahariku

ibu..
Tak ada kasih sayang yang lebih mulia darimu
Kau mengandungku
Kau tertatih
Sakit,… sakit yang kau rasakan
Ketika aku akan melihat dunia yang fana ini
Tetapi kau tetap tersenyum

Setiap malam aku mengusik tidurmu
Aku Menangis,
Aku selalu ingin kau dekap,
Aku selalu ingin dipangku
Dan..
Malam itu  kau memberikan senyuman

Ibu..
Kini aku berada jauh darimu
Aku merindukan pelukmu
Aku merindukan sosok teduh dan hangat
Hanya itu yang bisa membuatku tenang


Ibu..
Begitu banyak yang kau ajarkan
Hingga aku mengerti arti kehidupan
Semua dari kesabaran dan senyum iklasmu
Tak ada yang menadingimu
Kaulah matahariku
Kaulah senyumku
Aku bahagia melihat senyuman itu
Senyuman matahari
Untuk sepucuk daun muda

Senin, 17 Desember 2012

Keringat seorang Nenek


Tidak ada yang tidak mungkin. Kesederhanaan selalu memotivasi kita untuk selalu bekerja keras. Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. Nengah Karti, nama beliau.  Ia lahir di desa Anturan, 1 juli 1946. Kini ia tinggal di wilayah pesisir pantai, desa celuk angung, kalibubuk. Ia adalah ibu dari tiga orang anak. Anak pertamanya seorang laki-laki bernama putu suarka.  Anak kedua seorang perempuan bernama Kadek Marini, dan anak ketiga seoarang laki-laki bernama Komang Mara.
Ketika saya mengunjungi pantai Celuk Agung, saya bertemu dengan nenek Karti sedang bersantai karena hari itu ia tidak berjualan. Ia tinggal bersama Komang Mara dan istrinya di salah satu rumah pesisir pantai. Walaupun rumahnya terkesan sederhana, tetapi tatanannya sangat rapi. Namun, tatanan hidup nenek Karti tidak serapi tatanan rumahnya. Dimulai dari meninggalnya sosok suami yang dicintainya, kemudian anak pertamanya. Diusianya yang sudah renta ini ia juga harus brjualan keliling mendaki pegunungan di desa kayuputih Melaka. Ia berjualan keliling sejak tahun 1971 hingga sekarang. Keadaanlah yang memaksanya untuk berjualan menghampiri rumah-rumah warga dengan membawa beberapa bahan masakan rumah tangga, seperti ikan laut, tahu, tempe. Ia juga menjual nasi kuning dan jajan bali. Itupun hanya beberapa saja yang ia bawa. Seperti  tiga bungkus tahu yang jual seharga Rp.5.000,-, ikan laut sebanyak Rp. 60.000,- yang dijual Rp. 4.000,- sampai Rp. 5.000,-. Dari sekian bahan masakan yang dijualnya tidak ada satupun yang tersisa. Walaupun hasil yang didapat hanya Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000, itupun penghasilan yang sudah dipotong ongkos jalan. Ketika saya bertanya, “mengapa harus jalan kaki? Apa tidak ada yang mengantar?”. Nenek karti menjawab dengan santai kalau tidak ada orang yang mengantarnya, setiap hari ia menaiki ojek atau angkot dari celuk agung hingga desa Batu keben di rumah anak keduanya . Setelah itu ia berjalan kaki menelusuri jalan aspal yang ada di desa kayuputih. Tidak ada yang mengantar dan tidak ada yang menjemput. Ia sadar dengan keseharian anak laki-lakinya yang hanya menghabiskan waktunya untuk mengadu ayam dan tidak bekerja sama sekali, ia hanya menghandalkan warung  kecil yang dikelola oleh istrinya.
Pukul 4 atau 5 pagi nenek Karti berangkat ke pasar membeli barang belanjaan yang akan dibawanya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya hingga sore bahkan malam hari. Lelah , memang sangat lelah tetapi itulah yang harus ia lakukan setiap hari. Namun, akhir-akhir ini nenek Karti berjualan hanya berselang 3 atau 4 hari atau menurut cuaca. Dalam kesehariannya nenek karti tidak mengenal lelah. Tidak peduli cuaca dingin, panas ataupun kehujanan saat perjalanan. Ia mengaku lebih senang berjualan keliling dari pada berjualan di pasar. “anggon ape bin medagang di peken, mekejang sube ade adepe ken anake. (buat apa lagi jualan di pasar, semua sudah banyak yang dijual oleh pedagang lainnya)” ungkapnya menggunakan bahasa bali. Mengapa tidak memancing di laut? Ia hanya menjawab “sing ade ne mancing, yen mancing masi untung-untungan. Kadang maan, kadang sing. Yen maan paling anggon masak jumah dogen (tidak ada yang memancing, kalau memancing juga untung-untungan. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau dapat paling untuk masak di rumah saja)”pungkasnya lagi.