Rabu, 19 Desember 2012

Ibu


Matahari
Yahh… aku menyebutmu matahari
Dan..
Aku adalah daun kecil yang tumbuh karnamu
Cahayamu membuatku tumbuh begitu segar
Walaupun terkadang terik
Tapi terkadang memberikan kehangatan
Kaulah matahariku

ibu..
Tak ada kasih sayang yang lebih mulia darimu
Kau mengandungku
Kau tertatih
Sakit,… sakit yang kau rasakan
Ketika aku akan melihat dunia yang fana ini
Tetapi kau tetap tersenyum

Setiap malam aku mengusik tidurmu
Aku Menangis,
Aku selalu ingin kau dekap,
Aku selalu ingin dipangku
Dan..
Malam itu  kau memberikan senyuman

Ibu..
Kini aku berada jauh darimu
Aku merindukan pelukmu
Aku merindukan sosok teduh dan hangat
Hanya itu yang bisa membuatku tenang


Ibu..
Begitu banyak yang kau ajarkan
Hingga aku mengerti arti kehidupan
Semua dari kesabaran dan senyum iklasmu
Tak ada yang menadingimu
Kaulah matahariku
Kaulah senyumku
Aku bahagia melihat senyuman itu
Senyuman matahari
Untuk sepucuk daun muda

Senin, 17 Desember 2012

Keringat seorang Nenek


Tidak ada yang tidak mungkin. Kesederhanaan selalu memotivasi kita untuk selalu bekerja keras. Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. Nengah Karti, nama beliau.  Ia lahir di desa Anturan, 1 juli 1946. Kini ia tinggal di wilayah pesisir pantai, desa celuk angung, kalibubuk. Ia adalah ibu dari tiga orang anak. Anak pertamanya seorang laki-laki bernama putu suarka.  Anak kedua seorang perempuan bernama Kadek Marini, dan anak ketiga seoarang laki-laki bernama Komang Mara.
Ketika saya mengunjungi pantai Celuk Agung, saya bertemu dengan nenek Karti sedang bersantai karena hari itu ia tidak berjualan. Ia tinggal bersama Komang Mara dan istrinya di salah satu rumah pesisir pantai. Walaupun rumahnya terkesan sederhana, tetapi tatanannya sangat rapi. Namun, tatanan hidup nenek Karti tidak serapi tatanan rumahnya. Dimulai dari meninggalnya sosok suami yang dicintainya, kemudian anak pertamanya. Diusianya yang sudah renta ini ia juga harus brjualan keliling mendaki pegunungan di desa kayuputih Melaka. Ia berjualan keliling sejak tahun 1971 hingga sekarang. Keadaanlah yang memaksanya untuk berjualan menghampiri rumah-rumah warga dengan membawa beberapa bahan masakan rumah tangga, seperti ikan laut, tahu, tempe. Ia juga menjual nasi kuning dan jajan bali. Itupun hanya beberapa saja yang ia bawa. Seperti  tiga bungkus tahu yang jual seharga Rp.5.000,-, ikan laut sebanyak Rp. 60.000,- yang dijual Rp. 4.000,- sampai Rp. 5.000,-. Dari sekian bahan masakan yang dijualnya tidak ada satupun yang tersisa. Walaupun hasil yang didapat hanya Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000, itupun penghasilan yang sudah dipotong ongkos jalan. Ketika saya bertanya, “mengapa harus jalan kaki? Apa tidak ada yang mengantar?”. Nenek karti menjawab dengan santai kalau tidak ada orang yang mengantarnya, setiap hari ia menaiki ojek atau angkot dari celuk agung hingga desa Batu keben di rumah anak keduanya . Setelah itu ia berjalan kaki menelusuri jalan aspal yang ada di desa kayuputih. Tidak ada yang mengantar dan tidak ada yang menjemput. Ia sadar dengan keseharian anak laki-lakinya yang hanya menghabiskan waktunya untuk mengadu ayam dan tidak bekerja sama sekali, ia hanya menghandalkan warung  kecil yang dikelola oleh istrinya.
Pukul 4 atau 5 pagi nenek Karti berangkat ke pasar membeli barang belanjaan yang akan dibawanya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya hingga sore bahkan malam hari. Lelah , memang sangat lelah tetapi itulah yang harus ia lakukan setiap hari. Namun, akhir-akhir ini nenek Karti berjualan hanya berselang 3 atau 4 hari atau menurut cuaca. Dalam kesehariannya nenek karti tidak mengenal lelah. Tidak peduli cuaca dingin, panas ataupun kehujanan saat perjalanan. Ia mengaku lebih senang berjualan keliling dari pada berjualan di pasar. “anggon ape bin medagang di peken, mekejang sube ade adepe ken anake. (buat apa lagi jualan di pasar, semua sudah banyak yang dijual oleh pedagang lainnya)” ungkapnya menggunakan bahasa bali. Mengapa tidak memancing di laut? Ia hanya menjawab “sing ade ne mancing, yen mancing masi untung-untungan. Kadang maan, kadang sing. Yen maan paling anggon masak jumah dogen (tidak ada yang memancing, kalau memancing juga untung-untungan. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau dapat paling untuk masak di rumah saja)”pungkasnya lagi.

Kamis, 06 Desember 2012

Kuda di kaki bukit Kayuputih


Banyak hal yang belum kita ketahui tentang kelebihan suatu desa. Seperti halnya dengan Desa Kayuputih Melaka.  Desa ini bisa dikatakan desa yang kecil dan untuk mencarinya harus menempuh jarak 14 km dari kota Singaraja. Namun jarak belasan kilo tersebut tidak akan membuat kita kecewa atau merasa percuma mengunjunginnya. Sebab desa Kayuputih Melaka yang bisa dikatakan terletak di kaki bukit ini memiliki hewan kekar yang diminati oleh wisatawan asing dan memang jarang ditemukan di desa lainnya. Hewan ini adalah KUDA.
Salah seorang pemuda yang bernama Gede Adi Kusuma Wardana yang akrab dipanggi Dedi memelihara kuda selama 10 tahun. Ia merawat kuda ini seperti merawat dirinya sendiri dengan memberikan hak yang istimewa. Ia menyediakan rumah dan halaman untuk melatih kuda-kudanya dan dibangun tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu ketiga kuda yang ia rawat sekarang mempunyai nama yaitu “Marcus, Putra dan Pento”. Ketiga kuda ini tumbuh kekar dan jinak. Ajaibnya ia bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris. “Jika kita memintanya untuk diam, kuda tersebut akan diam jika kita meminta dengan menggunakan bahasa inggris, jika tidak ketiga kuda ini akan tetap melakukan apa yang mereka lakukan dan tidak memerdulikan suara-suara disekitarnya” kata ibunda Dedi.
 Seiring berjalannya waktu, ketika desa Kayuputih dipadati oleh pengunjung wisatawan asing. Marcus, Putra dan Pento mempunyai kegiatan baru, yaitu mengantarkan pengunjung melihat keindahan pegunungan di desa Kayputih dan tentunya ditemani oleh Dedi atau adik-adiknya.  Informasi adanya ketiga kuda ini didapatkan di media cetak seperti brosur dan media elektronik seperti internet.
Hasil publikasinya ditanggapi antusias. Pada bulan Juli dan Agustus 2012, pengunjung sangat ramai. Marcus, Putra dan Pento sangat kelelahan karena harus mengantar wisatawan menjelajahi desa kayuputih atau ke tempat-tempat lain yang ingin mereka kunjungi. Bisa ditarik kesimpulan bahwa pengunjung terbanyak tahun ini adalah 7 orang dan paling sedikit 4 orang. Karena Dedi hanya memelihara 3 ekor kuda, maka wisatawan yang ingin menaikinya harus bergantian. Alhasil pendapatannya lumayan banyak. Dedi memberikan harga untuk setiap pengunjung. Untuk orang asing, satu orang dapat menunggangi kuda selama 2 jam dengan biaya Rp. 500.000, satu jam 200.000, 30 menit Rp.150.000, dan 75 menit Rp. 300.000. Tidak menutup kemungkinan orang lokal tidak dapat menungganginya, dan pastinya tarif harganya lebih murah. Untuk orang lokal dikenakan biaya setengah dari harga untuk pengunjung asing. Namun sayangnya keadaan Marco, Putra dan Pento sekarang tidak memungkinkan untuk ditunggangi, maka untuk sementara aktifitas ketiga kuda ini diberhentikan selama beberapa bulan. Namun, bulan januari Marco, Putra dan Pento siap mengantar wisatawan yang ingin menaiki punggung kekarnya.