Produksi film di Indonesia
semakin hari kualitasnya semakin merosot. Bagaimana tidak? ada beberapa
film horor identik dengan hantu yang menakutkan, tetapi dikemas dengan vulgar.
Banyak adegan-adegan yang seharusnya disensor, tetapi malah diperlihatkan
secara detail. Hal ini akan merusak moral penotnton, terutama yang masih
dibawah umur . Bayangkan saja jika anak-anak yang menontonnya, dan anak tersebut
meniru adegan-adegan itu. Apa itu tidak berdampak negatif?
Putu Yogi Purandara adalah salah satu anak Sekolah Dasar yang masih
berumur 11 tahun. Anak ini sangat menyukai film horor. Setiap waktu ia selalu
menonton salah satu canel yang selalu menayangkan film-film horor. Memang
ketika film itu selesai ditayangkan ia sering ketakutan pada malam harinya dan
memilih tidur bersama ibunya, tetapi rasa takut itu dikalahkan oleh hobinya
menonton film horor. Ketika ditanya film apa saja yang pernah ia tonton, ia
menyebutkan beberapa judul film-film. Dari beberapa judul itu, terdapat dua
perbandingan dari alur ceritanya. Film pertama menayangkan cerita seram, tetapi
terselip adegan vulgar dan film ke dua menayangkan cerita-cerita seram tanpa
adegan-adengan vulgar. Kedua film ini mampu ia jelaskan sampai cerita itu
selesai. Ketika diberikan pilihan antara kedua film tersebut memang ia memilih
film ke dua, menurutnya film ke dua ceritanya lebih seram. Tetapi ketika
ditanya tentang film pertama, ia juga mengatakan kalau film tersebut bagus
apalagi melihat ‘adegan-adegan’ itu.
Memang seharusnya orang tua lebih memerhatikan anak-anaknya dan
melarang menonton adegan yang belum pantas ia tonton. Tetapi bagaimana jika
adegan itu diperlihatkan secara detail pada film yang sangat disukai anak-anak?
Apa anak tersebut akan mengalihkan cenel-nya?
Tidak anak tidak akan melewatkan sesuatu yang ia senangi. Inilah yang menjadi
pertanyaan kita semua, kenapa film-film dipertontonkan untuk umum itu bisa lulus
sensor? Apakah dari pihak penayangan tidak memikirkan hal negatif yang akan
muncul ketika film horor seperti itu ditayangkan dan disaksikan banyak orang? Untuk
itu mulailah dari sekarang untuk sensitif terhadap hal-hal kecil yang bisa berdampak negatif untuk masyarakat.

menunjukan hanya satu kekurangan film, dengan tanpa adanya penyebutan contoh negatifnya adegan vulgar pada film horor,menurut saya trlalu smpit untuk judul Kualitas Film Indonesia. :)
BalasHapusmasih sama masukan ku wik.. perhatikan penulisan kata dan istilah khusus.. :D bagus
BalasHapusitu artinya mengeksiskan penghuni dunia lain, hahahahahahahah oya... dari fenomena itu menurutku memupuk rasa takut anak, dan mengurangi kemandirian anak. biar ga gara-gara film horor anak berada dalam ketakutan...
BalasHapusyah.. itu yg aku dpet infonya... anak itu yg bilang ... suka nnton tp takut.. ckckck..
BalasHapus