Senin, 17 Desember 2012

Keringat seorang Nenek


Tidak ada yang tidak mungkin. Kesederhanaan selalu memotivasi kita untuk selalu bekerja keras. Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. Nengah Karti, nama beliau.  Ia lahir di desa Anturan, 1 juli 1946. Kini ia tinggal di wilayah pesisir pantai, desa celuk angung, kalibubuk. Ia adalah ibu dari tiga orang anak. Anak pertamanya seorang laki-laki bernama putu suarka.  Anak kedua seorang perempuan bernama Kadek Marini, dan anak ketiga seoarang laki-laki bernama Komang Mara.
Ketika saya mengunjungi pantai Celuk Agung, saya bertemu dengan nenek Karti sedang bersantai karena hari itu ia tidak berjualan. Ia tinggal bersama Komang Mara dan istrinya di salah satu rumah pesisir pantai. Walaupun rumahnya terkesan sederhana, tetapi tatanannya sangat rapi. Namun, tatanan hidup nenek Karti tidak serapi tatanan rumahnya. Dimulai dari meninggalnya sosok suami yang dicintainya, kemudian anak pertamanya. Diusianya yang sudah renta ini ia juga harus brjualan keliling mendaki pegunungan di desa kayuputih Melaka. Ia berjualan keliling sejak tahun 1971 hingga sekarang. Keadaanlah yang memaksanya untuk berjualan menghampiri rumah-rumah warga dengan membawa beberapa bahan masakan rumah tangga, seperti ikan laut, tahu, tempe. Ia juga menjual nasi kuning dan jajan bali. Itupun hanya beberapa saja yang ia bawa. Seperti  tiga bungkus tahu yang jual seharga Rp.5.000,-, ikan laut sebanyak Rp. 60.000,- yang dijual Rp. 4.000,- sampai Rp. 5.000,-. Dari sekian bahan masakan yang dijualnya tidak ada satupun yang tersisa. Walaupun hasil yang didapat hanya Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000, itupun penghasilan yang sudah dipotong ongkos jalan. Ketika saya bertanya, “mengapa harus jalan kaki? Apa tidak ada yang mengantar?”. Nenek karti menjawab dengan santai kalau tidak ada orang yang mengantarnya, setiap hari ia menaiki ojek atau angkot dari celuk agung hingga desa Batu keben di rumah anak keduanya . Setelah itu ia berjalan kaki menelusuri jalan aspal yang ada di desa kayuputih. Tidak ada yang mengantar dan tidak ada yang menjemput. Ia sadar dengan keseharian anak laki-lakinya yang hanya menghabiskan waktunya untuk mengadu ayam dan tidak bekerja sama sekali, ia hanya menghandalkan warung  kecil yang dikelola oleh istrinya.
Pukul 4 atau 5 pagi nenek Karti berangkat ke pasar membeli barang belanjaan yang akan dibawanya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya hingga sore bahkan malam hari. Lelah , memang sangat lelah tetapi itulah yang harus ia lakukan setiap hari. Namun, akhir-akhir ini nenek Karti berjualan hanya berselang 3 atau 4 hari atau menurut cuaca. Dalam kesehariannya nenek karti tidak mengenal lelah. Tidak peduli cuaca dingin, panas ataupun kehujanan saat perjalanan. Ia mengaku lebih senang berjualan keliling dari pada berjualan di pasar. “anggon ape bin medagang di peken, mekejang sube ade adepe ken anake. (buat apa lagi jualan di pasar, semua sudah banyak yang dijual oleh pedagang lainnya)” ungkapnya menggunakan bahasa bali. Mengapa tidak memancing di laut? Ia hanya menjawab “sing ade ne mancing, yen mancing masi untung-untungan. Kadang maan, kadang sing. Yen maan paling anggon masak jumah dogen (tidak ada yang memancing, kalau memancing juga untung-untungan. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau dapat paling untuk masak di rumah saja)”pungkasnya lagi.

7 komentar:

  1. Haiii kawan ku yg cantik...
    ini kisah yang menyedihkan, tapi aku masih bertanya-tanya,,apakah hasil yang didapat ia gunakan untuk membiayai hidupnya sendiri atau juga ia gunakan untuk membiayai hidup anak yang kini tinggal bersamanya?
    Jangan lupa kunjungi firlisa.blogspot.com
    Trims. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. hasilnya ia pakai untuk membiayai hidupnya sendiri dan anak bungsunya.. :D

      Hapus
  2. bener kata firlinyong, menyedihkan nups. suatu saat nanti ibuku ga bole kaya gitu hihihi. wik bkannya menggurui atau apalah istilahnya sebaiknya baian ini Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. diubah menjadi seperti....nenek Karti (66).....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hohoho.. oke... akan aku terapkan ditulisan-tulisan berikutnya.. makasii kawan...

      Hapus
  3. hi wi...
    tulisanmu bagus wi, tapi apa kamu membaca artikel ini sebelum mengupload, karena ada penulisan nama yang tidak menggunakan huruf besar,,,,,

    BalasHapus
  4. hehe.. baca kok ta... tpi mungkin ada yang tertinggal. hehehe....

    BalasHapus
  5. kisah pedesaan yang patut direnungi..

    BalasHapus