Tidak ada
yang tidak mungkin. Kesederhanaan selalu memotivasi kita untuk selalu bekerja
keras. Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. Nengah Karti, nama
beliau. Ia lahir di desa Anturan, 1 juli
1946. Kini ia tinggal di wilayah pesisir pantai, desa celuk angung, kalibubuk.
Ia adalah ibu dari tiga orang anak. Anak pertamanya seorang laki-laki bernama
putu suarka. Anak kedua seorang perempuan
bernama Kadek Marini, dan anak ketiga seoarang laki-laki bernama Komang Mara.
Ketika saya
mengunjungi pantai Celuk Agung, saya bertemu dengan nenek Karti sedang
bersantai karena hari itu ia tidak berjualan. Ia tinggal bersama Komang Mara
dan istrinya di salah satu rumah pesisir pantai. Walaupun rumahnya terkesan
sederhana, tetapi tatanannya sangat rapi. Namun, tatanan hidup nenek Karti
tidak serapi tatanan rumahnya. Dimulai dari meninggalnya sosok suami yang
dicintainya, kemudian anak pertamanya. Diusianya yang sudah renta ini ia juga
harus brjualan keliling mendaki pegunungan di desa kayuputih Melaka. Ia
berjualan keliling sejak tahun 1971 hingga sekarang. Keadaanlah yang memaksanya
untuk berjualan menghampiri rumah-rumah warga dengan membawa beberapa bahan masakan
rumah tangga, seperti ikan laut, tahu, tempe. Ia juga menjual nasi kuning dan jajan
bali. Itupun hanya beberapa saja yang ia bawa. Seperti tiga bungkus tahu yang jual seharga
Rp.5.000,-, ikan laut sebanyak Rp. 60.000,- yang dijual Rp. 4.000,- sampai Rp.
5.000,-. Dari sekian bahan masakan yang dijualnya tidak ada satupun yang tersisa.
Walaupun hasil yang didapat hanya Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000, itupun
penghasilan yang sudah dipotong ongkos jalan. Ketika saya bertanya, “mengapa
harus jalan kaki? Apa tidak ada yang mengantar?”. Nenek karti menjawab dengan
santai kalau tidak ada orang yang mengantarnya, setiap hari ia menaiki ojek
atau angkot dari celuk agung hingga desa Batu keben di rumah anak keduanya .
Setelah itu ia berjalan kaki menelusuri jalan aspal yang ada di desa kayuputih.
Tidak ada yang mengantar dan tidak ada yang menjemput. Ia sadar dengan
keseharian anak laki-lakinya yang hanya menghabiskan waktunya untuk mengadu
ayam dan tidak bekerja sama sekali, ia hanya menghandalkan warung kecil yang dikelola oleh istrinya.
Pukul 4 atau
5 pagi nenek Karti berangkat ke pasar membeli barang belanjaan yang akan
dibawanya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya hingga sore bahkan malam
hari. Lelah , memang sangat lelah tetapi itulah yang harus ia lakukan setiap
hari. Namun, akhir-akhir ini nenek Karti berjualan hanya berselang 3 atau 4
hari atau menurut cuaca. Dalam kesehariannya nenek karti tidak mengenal lelah. Tidak
peduli cuaca dingin, panas ataupun kehujanan saat perjalanan. Ia mengaku lebih
senang berjualan keliling dari pada berjualan di pasar. “anggon ape bin
medagang di peken, mekejang sube ade adepe ken anake. (buat apa lagi jualan di
pasar, semua sudah banyak yang dijual oleh pedagang lainnya)” ungkapnya
menggunakan bahasa bali. Mengapa tidak memancing di laut? Ia hanya menjawab
“sing ade ne mancing, yen mancing masi untung-untungan. Kadang maan, kadang
sing. Yen maan paling anggon masak jumah dogen (tidak ada yang memancing, kalau
memancing juga untung-untungan. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau dapat paling
untuk masak di rumah saja)”pungkasnya lagi.

Haiii kawan ku yg cantik...
BalasHapusini kisah yang menyedihkan, tapi aku masih bertanya-tanya,,apakah hasil yang didapat ia gunakan untuk membiayai hidupnya sendiri atau juga ia gunakan untuk membiayai hidup anak yang kini tinggal bersamanya?
Jangan lupa kunjungi firlisa.blogspot.com
Trims. :)
hehehe.. hasilnya ia pakai untuk membiayai hidupnya sendiri dan anak bungsunya.. :D
Hapusbener kata firlinyong, menyedihkan nups. suatu saat nanti ibuku ga bole kaya gitu hihihi. wik bkannya menggurui atau apalah istilahnya sebaiknya baian ini Seperti halnya nenek yang kini berusia 66 tahun. diubah menjadi seperti....nenek Karti (66).....
BalasHapushohoho.. oke... akan aku terapkan ditulisan-tulisan berikutnya.. makasii kawan...
Hapushi wi...
BalasHapustulisanmu bagus wi, tapi apa kamu membaca artikel ini sebelum mengupload, karena ada penulisan nama yang tidak menggunakan huruf besar,,,,,
hehe.. baca kok ta... tpi mungkin ada yang tertinggal. hehehe....
BalasHapuskisah pedesaan yang patut direnungi..
BalasHapus